Tampilkan postingan dengan label Artikel Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2021

Membumikan GLN Gareulis Jabar

 Dimuat di Majalah Geliat Gemilang Edisi 5


 

Membumikan GLN Gareulis Jabar

Oleh Nina Rahayu Nadea

            Membumikan menurut KBBI V adalah menyimpan dalam tanah atau memasyarakatkan. Terkait dengan tulisan ini yang berjudul Membumikan GLN Gareulis Jabar mempunyai maksud memasyarakatkan Gerakan Literasi Nasional Gareulis Jabar. Lantas apa yang telah dilakukan GLN Gareulis Jabar itu sendiri dalam memasyarakatkan gerakan literasi?

            Diketuai oleh Yulia Yulianti di tingkat Jabar, GLN  Jabar semakin membumi. Semakin melebarkan sayap agar  kegitan literasi  dapat dijangkau semua lapisan masyarakat. Jika awalnya hanya menyentuh ranah kalangan pendidikan (siswa dan guru agar aktif menulis), kini cakupannya lebih luas. GLN Gareulis Jabar itu sendiri merupakan wadah gerakan literasi nasional yang melibatkan sekolah, masyarakat, keluarga. Gareulis Jabar sadar bahwa literasi bukan hanya sekadar pengembangan literasi di sekolah saja namun perlu ada cakupan lain yang satu sama lainnya saling menunjang agar tujuan literasi dapat  tercapai.

Masa pandemi bukan berarti langkah GLN Gareulis Jabar terhenti. Namun sebaliknya, semakin menggeliat. Banyaknya waktu di rumah harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kegiata literasi. Menciptakan karya-karya atau pun mengadakan  beragam program yang dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang literasi.

Sebagai langkah awal memasyarakatkan kegiatan ini adalah dengan diawali diklat  penggerak GLN Gareulis Jabar yang dihadiri para pegiat literasi tingkat Kota/Kab  selama tiga hari yakni, 24-26 Juli 2020 dilakukan secara daring dengan peserta yang mengikuti kegiatan ini  kurang lebih 400 peserta. Peserta mendapatkan sertifikat dengan durasi 32 jam. Acara diikuti 27 kota/kab di Jawa Barat. Yang mana dalam kegiatan ini disampaikan beragam materi baik puisi, pantun, haiku, artikel, opini, resensi buku, liputan. Para peserta pun diberi tugas membuat tulisan bebas  yang dikirim ke Majalah Geliat Gemilang (MGG) dengan batas waktu 1 minggu.

            Diikuti kegiatan lain yang dilakukan secara maraton baik itu sosialisasi melalui daring atau offline ke sekolah dalam kota maupun luar kota.  Saat ini GLN sedang menggerakan program yang menarik hati masyarakat agar mereka mempunyai jiwa yang literat. Salah satunya dengan mengadakan tantangan berkaitan dengan literasi;  membaca dan membuat resume dari 10 buku, membuat video mendongeng, membuat tulisan hasil karya literasi, memanfaatkan media cetak Majalah Pendidikan  Geliat gemilang (MGG) dll. Nantinya  akan ada penghargaan tantangan literasi berupa memperoleh sertifikat, penghargaan sebagai pelopor, penggerak, perintis. Selain itu bagi mereka yang beruntung akan mendapatkan  piagam penghargaan anugerah literasi  GLN Jawa Barat serta hadiah apresiasi literasi.

            Untuk memperlancar kegiatan ini, GLN Gareulis Jabar menggandeng berbagai pihak: Disdik Provinsi, Disdik Kota, Balai Bahasa, Tikomdik, Phi radio, Jabar bergerak, Majalah Geliat Gemilang, Dispusipda, Ikatan Pustakawan Indonesia,  AKSI (Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia) semua dilakukan semata agar masyarakat sadar pentingnya berliterasi demi mewujudkan Kota Bandung khususnya umumnya cakupan yang lebih luas  agar masyarakat lebih literat.

Hal ini pula disampaikan oleh Siti Muntamah Oded dalam Webinar GLN Gareulis Jabar menuju Bandung Kota Literat Bermartabat, 29 September 2020. Umi menyebutkan bahwa untuk mewujudkan Kota Bandung yang unggul bukan hanya tata kota saja namun SDM yang akan dibangun secara khusus lebih kuat mulai ketaqwaan, life skil, potensi maupun literasi yang lebih luas.

Menciptakan masyarakat lebih literat, salah satunya dimulai dari keluarga. Hadirnya perpustakaan dalam keluarga yang diimbangi dengan adanya interaksi dapat meningkatkan jiwa yang literat. Bagaimana seorang ibu bisa menciptakan suasana anak gemar membaca karena perannya. Bagaimana seorang ayah bisa menarik minat baca anak-anak karena kebiasaan membaca. Interaksi yang dilakukan baik secara langsung atapun tidak langsung. Orang tua harus memberi teladan pada anak-anaknya hingga anak-anak mencintai buku dan gemar membaca buku. Itu sebab mengapa GLN Gareulis Jabar merangkul keluarga sebagai wadah literasi nasional.

 

Giat GLN Gareulis Jabar,

Untuk menyebar informasi dari GLN Gareulis Jabar, dilakukan road show mulai dari sosialisasi di Kab Sukabumi, 15 September 2020. Sosialisasi seri 1 GLN Gareulis Jabar melalui webinar dengan peserta Kepala Sekolah se-Jawa Barat. Acara sukses terlaksana  dengan menggandeng Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (APSI), 19 September 2020. Sosialisasi dengan TBM  (25 September 2020).

            Workshop penyusunan program literasi ke sekolah secara langsung. Dilakukan di SDN 065 Cihampelas (19 & 26 Oktober), SMKN 14 Bandung (16 September 2020). Selain dalam kota, dilakukan pula di luar kota misalnya workshop bersama SMA/SMK di Kab. Bandung  (1 Oktober 2020) dilanjutkan ke  Tasikmalaya, Cirebon, Kab Bekasi dan lain-lain.

Diklat pelatihan GLN Gareulis Jabar secara daring  17 Oktober 2020, dalam giat Diklat pelopor menulis memahat jejak peradaban. Salah satu materi adalah bagaimana meningkatkan keterampilan menulis. Diklat pelatihan GLN, dalam giat Diklat pelopor  (10 Oktober 2020). Dengan materi bagaimana  teknik merevieu buku. Peserta yang dilibatkan dalam giat ini adalah  koordinator kota/Kab (mereka mengerahkan peserta untuk menerima tantangan GLN). Diklat penggerak, 25 September 2020, tentang tantangan liteeasi GLN Gareulis Jabar

Talk show di Phiradio 23 september 2020

            Beragam kegiatan yang dilakukan GLN Gareulis Jabar satu buki nyata bahwa GLN begitu  peduli terhadap kegiatan litarasi. Membumikan GLN Gareulis Jabar kepada masyarakat. Yang patut diacungi jempol bahwa GLN gareulis jabar tidak hanya memberi ilmu secara teori saja namun langsung melakukan  prakteknya. Tinggal kita menyikapinya Beranikah menerima tantangan GLN Gareulis Jabar?***(ninarahayunadea@g.mail.com)

 

Penasaran dengan majalah ini? sila, isi link berikut 



Berprestasi Berarti Berkarakter

 Dimuat di Majalah

Edisi 5.


 

 

Siapa Dia

Berprestasi Berarti Berkarakter

Oleh Nina Rahayu Nadea

 

            Ramah, supel ceria demikian kesan pertama kali berjumpa dengan sosok ibu yang cantik ini. Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Geliat Gemilang Kota Bandung ini dengan gamblang memaparkan pentingnya literasi  di Aula Dinas pendidikan Kota Bandung beberapa waktu yang lalu. Dalam memaparkan pun tidak monoton. Diselingi dengan dialog aktif dengan peserta hingga keceriaan dan gelak tawa yang terlihat saat itu tanpa mengurangi makna pertemuan.

            Dra. Nita Suherneti, M.Si demikan nama lengkap dari ibu yang satu ini. Terlahir dari pasangan Suherman dan Alm. Juwita. Pegiat Literasi Kota Bandung yang senantiasa semangat memberi motivasi tentang literasi bagi guru, kepala sekolah dan lainnya. Ya, pengalamannya di bidang literasi memang tak bisa diragukan lagi. Dengan kehebatan yang dimilikiya ia justru begitu peduli dengan orang lain, terbukti dengan padatnya kegiatan yang diikuti dalam memajukan literasi.

Dengan aktif di literasi maka  dapat mengembangkan diri, dapat mengikuti beragam  lomba, dapat sharing ilmu ke orang lain, dan yang lainnya adalah dengan  menulis ternyata membuat kita bisa berprestasi, demikian alasan Nita saat ditanya alasannya terjun di dunia literasi.

Bermula dari  sekolah binaan, bagaimana dapat menjadi organisasi pembelajar tentu dengan pendampingan pengawas bina masing-masing, kemudian menganalisis masalah setiap sekolah. Dan kesemuanya tentu saja perlu dituangkan dalam sebuah tulisan karena setiap sekolah berbeda kondisinya.

Menulis bukan hal yang sulit bila  memahami pekerjaan, melaksanakan pekerjaan dan mengevaluasi /merefleksi hasil yang telah kita kerjakan maka akan mengalir tulisan yang sesuai dengan setiap langkah yang telah dilakukan.

“Yang terpenting bekerja dengan hati tidak keluar dari yang telah kita lakukan (tidak ada rekayasa). Ketulusan hati, keiklasan, kejernihan berpikir akan menghasilkan tulisan yang sesuai dengan kenyataan. Menulis bisa mengalir juga bila mengerjakan tugas dengan hati, artinya saat ada sebuah kepercayaan melaksanakan tugas dan dilaksanakan dengan rasa senang ternyata muncul ide/gagasan yang dapat diterima orang lain.

Pengalaman dalam bidang menulis diantaranya sebagai: Tim Perekayasa Kurikulum (Tim Pengembang Kurikulum) Provinsi Jawa Barat Tahun 1992. TPK dituntut untuk menyusun Kurikulum Muatan Lokal Jawa Barat, sehingga setelah kurikulum muatan lokal tersebut selesai maka beberapa penerbit bekerjasama untuk menulis buku  muatan lokal yang akan digunakan siswa. Tahun 1993 /1994 menulis Seni Tari untuk Siswa SMP dengan beberapa rekan TPK dan pakar seni tari. Tahun selanjutkan benar-benar dapat bergabung dengan Tim Instruktur Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk menulis buku pelajaran untuk SD: PMP, PPKn, IPS, PLH dan LK di beberapa penerbit, sedangkan untuk Taman Kanak-kanak dipercaya sebagai Tim Editor.

 “Sungguh menyenangkan menjadi Pengawas SD karena bisa mengembangkan diri terutama dalam literasi, kita bisa mendapat tugas tambahan sebagai pengajar di PGSD dan PGPAUD UT, bisa menjadi narasumber mulai  dari Kota/Kab sampai di tingkat nasional, semoga dapat terselesaikan sampai purna bakti bln Desember 2023,” tutur Nita.


 

“Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis. Literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya”. (UNESCO, 2003). Kalimat tersebut yang   menggugah hati ibu yang cantik ini untuk lebih terjun ke dunia literasi, apalagi mengingat tugas pokok sebagai pengawas sekolah yang mulai diangkat Tahun 1998 untuk  melaksanakan Pembinaan ,Pemantauan,Penilaian, Pembimbingan dan pelatihan kesekolah bina. Hal tersebut sangat menuntut untuk bisa membaca dalam arti luas, membaca kondisi sekolah binaan yang didalamnya ada kepala sekolah, guru-guru,staf dan komite sekolah  sehingga menuntut sebagai pengawas dapat menjalin hubungan yang harmonis agar tugas kepengawasan dapat tercapai dengan kerjasama.

            Banyak pengalaman yang telah dilaluinya dalam menjalani dunia literasi. Bangga bila melihat sekolah binaan mengimplementasikan gerakan literasi di sekolah kepada peserta didik, melaksanakan redhaton, ada anak yang bisa menceritakan isi bacaan dan lain-lain. Pengalaman yang  mengesankan saat  mendapat tugas dari Dinas Pendidikan kepada Tim Literasi untuk  mengumpulkan peserta didik  untuk membaca senyap ( Redhaton ) lebih dari 12 ribu orang di lapangan Sidholig  dan meraih Murry, dilanjutkan tahun berikutnya mengumpulkan peserta didik dilapangan GOR arcamanik  lebih dari 16 ribu orang untuk menulis puisi dan yang menggetarkan hati saat Pak Mentri  Pendidikan  menunjuk anak untu membacakan hasil menulis puisinya ternyata anak tersebut  dapat membaca puisi dengan  baik dan membuata kagum semua yang menyaksikan saat itu  dan dari hasil menulis puisi semua anak kota bandung khususnya SD meraih Orry .

            Selamat berjuang menyemarakan dunia literasi, semoga harapan agar warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik dapat tercapa.*** (ninarahayunadea@gmail.com)

 Cat:

bagi yang penasaran dengan majalah ini, bisa dipesan di link berikut ya, 


 

Selasa, 16 Juni 2020

Workshop Rencana Pengembangan Sekolah (RIPS)D

Dimuat di Majalah Geliat Gemilang 2020

Workshop Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) sebagai Ajang Silaturahmi
Oleh: Nina Rahayu Nadea
IMG_0250

Beberapa waktu lalu tepatnya 9-10 Desember 2019 di Grand Aquarium  Hotel Pangandaran  diselenggarakan Workshop Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) melalui Pengelolaan Database Sekolah pada Kegiatan Pembangunan  Rehabilitasi dan Pengadaan Sarana Prasarana SMP Bidang PP SMP Dinas Pendidikan Kota Bandung. Acara yang digagas oleh bidang PP SMP Disdik Kota Bandung ini dihadiri oleh peserta kurang lebih 100 orang, terdiri  dari unsur Operator Dapodik, Operator Simda BMD dan Tim Sakoja.
Hadir dalam kegiatan tersebut adalah Kepala Bidang PP SMP Hadiana Soeriaatmadja, Kepala Seksi Kurikulum Bambang Ariyanto, Kepala Seksi Kelembagaan dan Peserta Didik Dedi Kusnadi serta staf di lingkungan PP SMP Disdik Bandung.
Dedi dalam laporannya menyebutkan  bahwa kegiatan ini bukan hanya sekedar ceremonial namun lebih ke arah terjalinnya komunikasi dan koordinasi dengan para operator  sekolah
            “Operator Dapodik dan SIMDA adalah pejuang yang tangguh yang menjadi ujung tombak IT di sekolah, maka kegiatan ini hendaknya dijadikan sarana untuk lebih mempererat silaturahmi,” tutur Dedi.


Latar belakang kegiatan ini adalah: Rencana Induk Pengembangan Sekolah melalui Database sekolah semakin pesat sementara   perkembangan pendidikan sebagian besar sekolah yang ada di Kota Bandung belum berkesesuaian dengan Permendiknas  No. 24 tahun 2007 tentang Sarana Prasarana. Maka perlu ada rencana secara menyeluruh   bukan hanya dari bidang Sarana Prasarana saja namun delapan standar pendidikan lainnya.
“Prinsipnya  adalah  menyamakan persepsi persamaan Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS),” pungkas Dedi.
Dasar Hukum: 1) Undang-undang Dasar Negara tahun 1945, 2) Undang-undang  No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 3) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), 4) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor   33 tahun 2008 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk  Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB), 5) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 40  tahun 2008 tentang Standar Sarana Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK).
Tujuan kegiatan ini adalah: 1) untuk .merencanakan kebutuhan dan sekolah dalam Proses Belajar Mengajar, 2) Melaksanakan manajemen inventarisasi sarana prasarana, 3) Melakukan up date sarana prasarana (penghapusan dan lain-lain), 4) Melaksanakan program Sarana prasarana, 5) Melaksanakan perbaikan dan rehab, 6) Melaksanakan program pemeliharaan yang sudah ada, 7) Pemanfaatan sarana prasarana
Narasumber kegiatan ini adalah:   Suratman memberikan materi Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS),  Suhandi memberikan materi Input Data dan Analisis Tingkat Kerusakan Bangunan.
Berkenan membuka acara dalam kegiatan ini adalah Kepala Bidang PP SMP Hadiana Soeriaatmadja. Dalam kesempatan tersebut Hadiana mengatakan bahwa hendaknya apa yang dilakukan para operator di bidang IT dapat diimplementasikan pada peserta didik, sehingga ilmunya akan mengalir kepada semua.
Hadiana juga turut berbangga atas Anugerah Kihajar kategori Madya yang baru-baru ini diraih Kota Bandung. Anugerah Kihajar merupakan penghargaan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bagi Pemerintah Daerah yang dinilai berhasil menerapkan Tekhnologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Sistem Pendidikan.
“Dan semua berkat dukungan kita, salah satunya adalah para operator yang hadir di sini. Operator yang unggul yang  memberikan suasana berbeda. Ketika tim sakoja ditampilkan dan mengelola aplikasi sakoja maka timbullah sebuah pengembangan Sakoja dari tim IT yang hebat yang dapat merangsang pendidikan. Terima kasih pada tim sakoja dan tim IT  lain,”tutur Hadiana.
Hadiana juga berpesan agar para operator dapat bekerja secara propesional, menjadi operator yang jujur, mengisi data sesuai dengan sebenarnya. Jangan pernah merasa ingin dilihat lebih maju namun kenyataannya tidak sesuai. Ketidakselarasan sarana prasarana dengan  Dapodik harus segera dibenahi. Dan kegiatan ini  sebagai sharing ilmu dengan sesama rekan bagaimana mewujudkan kebersamaan.
“Sebagai Ajang silaturahmi yang dapat memberikan warna dalam pengembangan IT. Itu sesuatu yang menjadi harapan kami,” pungkas Hadiana.
Handi Suhandi sebagai narasumber menyebutkan tentang tingkat kerusakan bangunan dikelompokan menjadi beberapa: tingkat kerusakan 0 s.d 30% disebut kategori rusak ringan, kerusakan 30-45%: rusak sedang, tingkat kerusakan 45%-65% disebut kategori rusak berat, tingkat kerusakan lebih dari 65% disebut rusak total.
Rusak ringan contohnya: diding retak halus, kerusakan tidak tembus, plesteran  terkelupas, plafon dan lipstplang rusak, tak ada kerusakan struktural. Tindakan yang dianjurkan untuk kerusakan seperti ini: bangunan tidak perlu dikosongkan, hanya perlu perbaikan kosmetik secara arsitektural agar daya tahan bangunan tetap terpelihara.
Rusak sedang contohnya: kerusakan yang terjadi: dinding partisi retak tembus atau roboh sebagian, bagian struktural (kolom, balok,  kuda-kuda) mengalami kerusakan tetapi masih dapat diperbaiki, dinding struktural (bangunan tanpa kolom dan balok) mengalami kerusakan yang masih dapat diperbaiki. Tindakan yang dianjurkan untuk kerusakan ini adalah: bangunan perlu dikosongkan dan boleh dihuni kembali setelah dilakukan perbaikan dan perkuatan untuk dapat menahan beban gempa.
Rusak berat contohnya: dinding retak tembus dan mengalami perubahana bentuk atau miring, bagian struktural (kolom, balok, kuda-kuda)  mengalami  kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, dinding struktural (bangunan tanpa kolom dan balok) mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, pondasi amnlas/retak bergeser,  bangunan roboh total. Tindakan yang dianjurkan untuk kerusakan ini adalah: bangunan harus dikosongkan atau dirobohkan
Untuk menjalin tali kekerabatan dan silaturhami antara pegawai Disdik dengan para operator adalah dilaksanakan kegiatan full body rafting- menyusuri Sungai Citumang sepuasnya dengan didampingi para pemandu. Sebagai bentuk  olahraga yang mendekatkan diri dengan alam, prinsipnya seperti arung jeram namun tidak menggunakan rakit maupun dayung. Body rafting merupakan aktivitas wisata telusur sungai degan menggunakan peralatan lengkap mulai dari helm, decker dan life jacket. (Niradea-Disdik Bandung)

Komitmen MGG

Di Majalah Geliat Gemilang, Januari 2020



TBM/Komunitas
Komitmen Tim MGG  dalam Memajukan Literasi
Oleh: Nina Rahayu Nadea
IMG_0250

Di Geliat Gemilang
Di geliat gemilang tumbuh kuncup bermekaran
Di geliat gemilang tercurah karya yang nyata
Di geliat gemilang lahir karya membanggakan
Bukti pokja literasi dengan segala upaya
Daya cipta para guru, siswa serta masyarakat
Menyatu dalam wadah karya cipta nan cemerlang
Reff
Geliat gemilang
Majalah yang cerlang cemerlang
Geliat gemilang literasi berkembang
Wujudkan impian nyata
Lahirkan literasi handal

                Senin, 23 Desember 2019. Aula SMPN 43 membahana oleh suara merdu dari tim pengelola Majalah Geliat Gemilang (MGG).  Hem, ternyata selain mereka berkomitmen untuk mengembangkan literasi mereka juga piawai bernyanyi. Ini bukan sembarang lagu namun lagu yang sarat makna-sebagai bentuk penyemangat agar literasi terus berkembang dan mendarahdaging di tim MGG khususnya  umumnya bagi yang lain.
                Pertemuan di SMPN 43 Bandung jalan Kautamaan Istri No. 43 Balonggede Kec. Regol Bandung kali ini dalam rangka Rapat Evaluasi  2019 dan  Sosialisasi  Program Peningkatan Mutu Majalah Literasi Sekolah Geliat Gemilang Tahun 2020. Dihadiri oleh kurang lebih 30 peserta yang peduli terhadap kemajuan Majalah Geliat Gemilang.
                Hadir saat itu adalah Ketua Dewan Pengarah Majalah Geliat Gemilang Elia Suganda, Pemimpin Redaksi Majalah Geliat Gemilang Yulia Yulianti dan Redaktur Pelaksana Majalah Geliat Gemilang Yoyo Sunaryo.
Dalam kesempatan tersebut Elia berkenan memberikan sambutan. Elia mengatakan agar semua tim dapat meningkatan mutu pendidikan Kota Bandung, memajukan hasil karya kreatif anak bangsa. Salah satunya dengan cara  mengumpulkan naskah tidak hanya naskah dari para guru namun juga naskah dari peserta didik. Memotivasi peserta didik sehingga bibit-bibit peserta didik di Kota Bandung khususnya di bidang literasi dapat tergali.
“Harus ada itikad untuk menulis dan membaca yang merupakan suatu kebutuhan di lingkungan sekolah. Anak yang berbakat dalam menulis untuk terus dimotivasi agar terus menulis dan agar dilatih. Sertakan anak didik untuk mencari pengalaman bukan sebagai juara,” tandas Elia.
Elia juga mengatakan bahwa ke depannya MGG Siap untuk memfasilitasi bagi yang akan membuat buku.
Sementara itu  Pemimpin Redaksi  Yulia Yulianti memberi apresiai kepada  Kepala SDN 169 Pelita Yuyum Yulianti, karena selain berkiprah secara langsung untuk kemajuan MGG, Yuyum juga menciptakan banyak lagu-lagi. Di tangan Yuyum sendiri telah lahir banyak  lagu bertema literasi.
“Diharapkan semua pengurus untuk hapal lagu-lagu literasi karena selanjutnya akan ditidaklanjuti roadshow ke sekolah,” tutur Yulia.
Yulia juga mengatakan bahwa Majalah Geliat Gemilang  difokuskan untuk Kepala Sekolah,  guru, perpustakaan, kelas pokja baca sekolah, taman baca sekolah namun literasi sekolah masih kurang maksimal dilaksanakan. Terbukti dengan respon  masyarakat terhadap majalah masih kurang maksimal.
“Tahun 2020 adalah tahun buku, namun yang baru kelihatan serius dalam membuat buku adalah SMPN 36, SMPN 52 dan SMPN 53,” tegas Yulia.
                Berdasarkan rapat kerja ini mengahasilkan suatu kesepakatan terhadap mereka yang bertanggung jawab terhadap pembagian rubrik penulisan naskah MGG. Diantaranya sebagai berikut:
Kelompok A. Utama (Nina Rahayu Nadea, Riyantini, Eva Riyanti, Tuty Hernawaty). Kelompok B Liputan (Tanti Daryanti, Teti Kusumawati, Sri Suryanti, Ani Susana). Kelompok C Karya Utama (Wati Herawati, Nella S Wulan,  Windy). Kelompok D Resensi (Nia Kania Dewi, Susan Sandiasih, Sonya, Andriani Kansyah).  Kelompok E. Karyaku (Livia Sintiani, Dewi Triwiyati, Akbar). Kelompok F Serba Serbi (Teti Mardiana, Cucu Unisah, Dewi Oktoriana, Tia Mutiawati)
Yulia juga memaparkan beberapa kegiatan MGG di tahun 2020: cetak majalah tiap bulan, Rapat rutin bulanan, Gerai MGG, bimbingan dan pelatihan si geulis II, pelatihan menulis rubrik majalah, workshop editor bagi Tim MGG, roadshow majalah, penilaian sekolah literasi, Monev Literasi, pemanfaatan media online, Pameran Bandung Lautan Buku.
Kegiatan yang sampai saat ini dilakukan secara rutin oleh tim MGG terkait keberlangsungan majalah adalah: Minggu 1, pengumpulan naskah, penyebaran majalah, pemberian honorarium dan sertifikat. Minggu 2, Pengumpulan naskah, proses editing dan penyebaran majalah. Minggu 3, pengumpulan naskah dan  proses cetak. Minggu 4, Pengumpulan naskah,  penandatanganan sertifikat.
Acara ditutup oleh Redaktur Pelaksana Majalah Geliat Gemilang Yoyo Sunaryo. Dalam penutupannya Yoyo menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah hadir di kegiatan ini. Yoyo  memberi informasi terkait cara menerbitkan buku berISBN di Majalah Geliat Gemilang.
Untuk mendapatkan ISBN harus bersabar, karena untuk daftar ISBN online per harinya dibatasi s.d  500 judul buku  dari seluruh Indonesia. Informasi lanjutnya boleh Anda datang ke alamat redaksi Majalah Geliat Gemilang, Jl. Neptunus Timur III Blok K2 No. 62G Margahayu Raya Bandung. Atau  Anda tertarik berlangganan majalah ini? Sila isi form di http//gg.gg/Form-pemesanan-MajalahGeliat-Gemilang.***(Niradea-DisdikBandung)